Kamis, 14 September 2017

Penyesalan memang datangnya dibelakang, kalau depan yah namanya Pendaftaran

Penggalan cerpen patah hati part II, apabila ada yang mempunyai kasus yang sama mohon tinggalkan pesan, dan bagi pembaca yang merasa sama dengan tulisan ini silahkan berbagi๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Menaruh harapan kepada manusia akan menjadikan diri kita kecewa, berani jatuh cinta berani pula patah hati. Jika orang sudah dibutakan oleh cinta maka iya tak  lagi dapat melihat, bahkan tai kucingpun rasanya coklat. Mungkin kata ini sangat tepat untukmu, mungkin sekarang dirimu dimabuk oleh panasnya cinta yang baru, tapi tahukah kamu ada hati yang kau sakiti? Ada janji yang telah kau beri kepada wanita yang selalu menemanimu 3 tahun belakangan ini? Hanya karena kamu menemukan yang baru lantas kamu ingin mendua?

Hari ini rasanya hidup ingin saja kuhentikan, tepatnya 3 tahun 5 bulan 10 hari waktu yang tidak singkat kujalani bersamamu. Mataku tak henti hentinya meneteskan air mata mengetahui kelakuanmu dibelakangku, selama ini aku hanya diam saja berharap kamu bisa berubah tapi seiring berjalannya waktu kamu malah makin menjadi jadi. Aku hanya berfikir mungkin dirinya sudah hebat, iya kita memang LDRan dan bagiku itu fine  fine saja selama kamu dan aku masih bisa saling percaya, tapi tahukah kamu hari ini betul betul membuatku kecewa, membuatku tak ingin lagi mengenalmu. Kamu yang dulunya apabila setengah hari tak ada kabarku akan sibuk mencariku sampai harus menghubungi teman dekatku dan bahkan menelpon ibuku untuk menanyakan keberadaanku dimana. Kamu yang dulunya pusing ketika tiba tiba kumatikan telponmu, kamu yang dulunya sangat peduli kepadaku, tapi akhir akhir ini kamu berubah 100 derajat bagaikan langit yang cerah tiba tiba turun hujan yang begitu dahsyat, Mana janjimu yang sering kau ucap yang katamu tak akan mendua? Cincin yang kau pasang dijariku sudah kulempar dan tak ingin lagi kelihatnya, fotomu diruang tamu sudah kucabut semua tentangmu rasa tabu, tak ingin mengenalmu.

 Ingatkah kamu waktu kau mengungkapkan kata cinta untuk pertama kalinya? Janji yang kau ucap untuk tidak akan pernah meninggalkan? Wanita yang selalu menuntunmu ketika salah jalan, Mengerjakan tugas akhirmu sampai ia rela begadang semalaman hanya untuk memberikan tambahan nama dibelakang namamu,  Wanita yang menjadi alarm ketika subuh berkumandang yang dilakukan selain ibumu? mengirimkan jajan ketika kirimanmu dan jajanmu dibatasi? Menambahkan uang hanya untuk membeli hp? Wanita yang tetap merayakan hari ulang tahunmu walaupun kamu tak akan datang meniup lilinnya. Apa perlu semua aku ungkap supaya kamu bisa menyadari Kurang baik apa diriku ini? Itulah kata pepatah bagaikan kacang yang lupa kulit.
Kembali ke diriku untuk ku intropeksi mungkin aku yang kurang baik untukmu, mungkin aku yang tak sempurna untukmu, mungkin aku yang tak bisa selalu berada didekatmu, iya mungkin aku yang salah.

Terlalu banyak kenangan indah yang kujalani bersamamu, terlalu sulit untukku melupakan semua, hey ingatkah kamu wanita yang selalu mengoreksi penampilanmu agar dirimu tampil lebih keren didepan temanmu? Ingatkah kamu wanita yang selalu mendengar semua keluh kesahmu ? Tapi sudahlah semua kenagannya tak bisa kusebut satu persatu, bukankah pepatah bijak mengatakan semua akan indah pada waktunya? Bukankah waktu pasti akan berlalu, iya aku hanya mencoba belajar dari itu semua.
Laki-laki yang selalu kupuja, laki-laki yang selalu kusebut namanya dalam doaku, laki-laki yang selalu kuceritakan kepada ibuku, laki-laki yang selalu kurindukan, laki-laki yang selalu kudambakan iya itulah kamu.

Tapi kenapa kau begitu tega melakukan ini semua kepadaku? Apa salahku?
Bukan pertemuan yang kusesali, bukan pula mengenalmu yang harus kusesali, tapi kejahatanmu yang tak akan kulupa.

Minggu, 10 September 2017

Sarjana ohh Sarjana,,,,

Beberapa hari belakangan ini ada beberapa hal yang bikin otak muter muter tidak karuan
Alhamdulillah sekarang saya sudah jadi Sarjana sekarang saya sebentar lagi akan diyudisium. Begitulah ungkapan dari beberapa teman teman yang sudah semester akhir.

Kembali kepermasalahan sebenarnya, setelah jadi sarjana planningnya apa? Banyak yang menjawab terbata bata, ada yang menjawab tidak tahu, langsung nikah saja dan adapula yang menjawab dengan lelucon, yah setelah sarjana otomatis jadi sarjanalah ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Saya pribadi paham betul apa yang dirasakan oleh teman teman seangkatan, dulu waktu masih kuliah kalau ketemu dengan teman atau keluarga pas ditanya sekarang kesibukannya apa? Yahh pasti jawabnya kuliah, nah sekarang pas jadi sarjana kalau ditanya kesibukannya sekarang apa? Masa iya harus jawabnya sarjana๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡.

Tapi,, beberapa diskusi dari teman teman  masalah yang sebenanrnya membuat dilema itu. Apa yang menjadi ketakutan sarjana muda? Khususnya yang berasal dari desa jauh dan terpencil, tapi masyarakatnya lebih mengutamakan gengsi dan tidak mau tahu.
Kembali ke masyarakat tentunya berbagai macam pertanyaan pertanyaan sering dilontarkan khususnya bagi perempuan yang terkadang hukumannya lebih kejam daripada sanksi pidana, pertanyaan horor dan mematikan.

Yapp kapan NIKAH??๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ
Menikah merupakan impian setiap orang, apabila sudah menemukan pasangan yang cocok bahkan di saat usia masih sangat muda pun, pilihan untuk menikah tidak menjadi permasalahan. Selain untuk memenuhi syariat agama, menikah muda pun dianggap sebagai salah satu cara untuk menghindari perbuatan dosa. Ini pemikiran dari beberapa pandangan positif teman teman diskusi.

Memang sih, secara umum, saat ini sedang trend menikah ‘cepat’. Terutama kalau para sahabat dekat juga sudah mulai bertunangan dan bahkan ada yang sudah punya anak. Alhasil, keinginan menikah menjadi semakin menggebu-gebu.
Adapula yang berbeda pandangan cepat atau lambat perempuan juga ujung ujungnya pasti nikah dan ujung ujungnya ke dapur juga, menarik diri saya untuk sedikit mengulas stigma yang sudah mengakar di masyarakat tentang perempuan “ngapain perempuan sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya ke dapur juga.” Lucu juga kadang mendengar hal atau stigma semacam ini.

Ketakutan yang dialami oleh perempuan ini lagi lagi dari hasil diskusi saya dengan teman teman seangkatan๐Ÿ™ kembali ke kampung, mau kerja apa di kampung. Tapi well ๐Ÿ˜Bukankah tri dharma perguruan tinggi itu salah satunya mengabdi ke masyarakat?
Mau merantau tapi takut sebagai kaum perempuan terlalu banyak ketakutan yang harus dipikirkan, Setelah jadi sarjana tentunya juga semakin banyak yang mengincar dari berbagai survey ini hanya diskusi dari teman teman yang sudah semester akhir dan yang setelah yudisium mereka matimatian harus melamar kerja kesana kesini karena takut pulang ke kampung karena apa?? Takut dinikahkan, ditambah lagi lapangan kerja yang sempit dan kurangnya pengalaman serta keterampilan yang dimiliki, tentunya banyak yang akan menyerah dan berpasrah, ada yang merasa tidak enak kalau hanya tinggal dirumah berdiam diri  ditambah lagi harus meminta uang jajan kepada orang tua๐Ÿ˜๐Ÿ˜ yang menjadi ketakutan sebenarnya bagi perempuan itu bukan karena takut cepat cepat nikah tapi takut dilamar oleh laki-laki yang tidak dicintainya alias bukan pujaan hatinya, perempuan akan merasa sangat dilema antara menerima atau menolak. Mereka akan berfikir dan bertanya serta meminta petunjuk oleh yang maha kuasa, kegelisahan yang dialami itu ketika menerima lamaran akan ada hati seorang pujaan yang tersakiti dan perempuan akan merasa sangat takut akan terkena karma, pendapat yang lain ada bagusnya juga menikah cepat ada yang memberi uang jajan dan jika laki-lakinya yang datang melamar sudah mapan why not? Tapi kemudian jikalau menolak terlalu banyak cibiran dari masyarakat mau sampai kapan harus menolak terus, konon katanya di kampung  jika perempuan sudah dilamar 2-3 kali lantas masih menolak maka ia akan menjadi perawan tua, yaaeelahh ini adalah persepsi tapi bersifat nyata. Haii laki-laki ketahuilah bahwa perempuan itu bukan karena mereka tidak sanggup untuk menunggumu datang melamar tapi kamu yang tidak memberi kepastian kepada mereka, mau sampai kapan harus diPHPin, banyak juga yang terjadi pacarannya bertahun tahun eehhh si laki-laki malah nikahnya sama yang lain, itulah yang menjadikan mereka takut dan sangat dilema.

Sejatinya menikah adalah menyempurnakan ibadah, jadi kenapa harus menunda jika sudah sah akan terasa lebih indah?

Siapa yang tidak ingin menikah? Apalagi ketika merasa sudah cocok dengan pacar yang telah menemani  selama beberapa tahun terakhir. Meski masih menyandang status mahasiswa, keinginan untuk membina hubungan yang lebih serius dengan sudah mulai bersemi di hati. Kalau bisa sih, begitu mengantongi gelar sarjana, target selanjutnya adalah menikah.

Nb. Banyak dari teman teman penulis curhat pacaran bertahun tahun tapi nikahnya bukan dengan pujaan hati, apalah hendak dikata "pakkodong temmaddapi" laki-laki dan perempuan sama sama berpasrah dengan keadaan, yang satu tidak memberi kejelasan dan yang satu sudah tidak bisa menunggu karena terlalu banyak problema dan dinamika hidup yang harus didengarnya๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡.

Tulisan ini adalah kejadian yang benar benar terjadi dimasyarakat kita sekarang, apabila ada yang mempunyai pengalaman yang sama saya memohon maaf๐Ÿ™

Minggu, 09 Juli 2017

Skripsi Mahasiswa Jurusan Dakwah dan Komunikasi prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam



ABSTRAK

Megawati. Stereotip Perempuan Bugis dalam Simbol Uang Panai’ Pernikahan Masyarakat Jampue Kecamatan Lanrisang Kabupaten Pinrang

Uang panai' dalam tradisi Bugis Jampue merupakan sejumlah uang yang diberikan oleh calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai perempuan sebagai syarat sahnya peminangan menurut adat serta sebagai sebuah penghargaan dan realitas penghormatan terhadap norma dan strata sosial.
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivisme dan teknik pengumpulan data berdasarkan pedoman wawancara mendalam, observasi partisipan dan non partisipan, serta dokumentasi. Sumber data penulis ada dua yaitu data primer dan data sekunder berupa opini, catatan dan dokumen (arsip) masyarakat Jampue Kecamatan Lanrisang Kabupaten Pinrang. Adapun tekhnik analisis datanya yaitu induktif.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa tata cara pernikahan suku Bugis Jampue kecamatan Lanrisang kabupaten Pinrang diatur sesuai dengan  adat, tradisi dan agama sehingga merupakan rangkaian acara yang menarik,  penuh tatakrama dan sopan santun serta saling menghargai. Pengaturan atau tatacara diatur mulai dari tahapan Makkita-kita, mammanu’-manu’, madduta, mappettu ada, mappisseng, mattale undangang, mappasang pesta, maddamme, mappasili, mapacci, mappenre botting, madduppa botting, tudang/resepsi, mapparola, mammatua, mabbarazanji pelaksanaan adat pernikahan keseluruhannya mengandung arti dan makna. Artinya prosesi yang panjang membutuhkan biaya pernikahan yang tinggi sehingga faktor inilah yang sangat mendorong besaran biaya atau uang panai’ tinggi. Melalui proses tersebut terdapat proses yang spesifik membicarakn uang panai’ yang disebut proses mappattu ada.  Simbol uang panai’ pada masyarakat Bugis itu sendiri adalah sebagai lambang kehormatan. Uang panai’ memberikan dampak sosial yang positif dan negatif. Adanya stereotip atau pelabelan dari suku lain yang menetap di Jampue bahwa permintaan uang panai’ yang tinggi sangat memberatkan, dan mereka melabelkan bahwa perempuan suku Bugis itu mahal dan tidak ada yang  bisa diandalkan, pernikahan  suku Bugis Jampue ada tawar menawar dan dalam upacara pernikahannya mereka kerap kali meminta dan mematok harga yang tinggi untuk anak perempuannya sehingga melahirkan persepsi dan stereotip oleh sebagian orang di luar suku Bugis sebagai perilaku “menjual anak perempuan”, tetapi adapula yang mengatakan kalau uang panai’ itu sangat penting dan sangat diperlukan karena sebagai adat yang sudah menjadi tradisi yang harus dijunjung tinggi, uang panai’ juga digunakan sebagai biaya pesta pernikahan mempelai perempuan.
                                                   

Kata Kunci: Stereotip Perempuan Bugis dalam Simbol Uang Panai’ Pernikahan.

BIOGRAFI PENULIS
MEGAWATI, Lahir pada tanggal 08 November 1994 di Jampue Pinrang, Sulawesi Selatan. Anak ke tiga dari tiga bersaudara atau anak bungsu dari pasangan Muchlis Taba dan Hadra Renreng. Penulis mulai menempuh pendidikannya di TK DDI Jampue, MI DDI Jampue, selesai tahun 2007. Dilanjutkan di SMP Perguruan Islam Datumuseng Makassar selesai pada tahun 2010. Dan dilanjutkan lagi ke jenjang SMK Negeri 1 Pinrang dan tamat pada tahun 2013. Kemudian penulis melanjutkan kuliah di STAIN Parepare pada jurusan Dakwah dan Komunikasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam pada tahun 2013.
Penulis melaksanakan praktek pengalaman lapangan (PPL) di PT. Fajar Televisi Makassar dan melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) di desa Bola Bulu Kecamatan Pitu Riase Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan.
Adapun organisasi yang sempat digeluti selama sekolah sampai kuliah di STAIN Parepare yaitu: Pramuka, HMJ Dakwah dan Komunikasi, GP Fatayat NU, dan Komando Resimen Mahasiswa Satuan 709 (MENWA) Parepare. Penulis menyelesaikan studinya di (STAIN) Parepare dengan judul skripsi: Stereotip Perempuan Bugis dalam Simbol Uang Panai’ Pernikahan Masyarakat Jampue Kecamatan Lanrisang Kabupaten Pinrang.

Popular Posts